Saya tidak menyebutnya ini sebagai suatu bentuk grafiti, atau sebutan seni menggambar lainnya,, mau di bilang iseng juga engga, karena terkadang saya memang meluangkan di sela waktu tertentu untuk melakukannya. yaa,, hanya di waktu luang, tapi kalo dikerjakan saat kuliah, atau pertemuan tertentu apa bisa dibilang waktu luang,, hahahaha. Mungkin yang lebih tepat, ketika saya merasa bosan, dan sudah tidak fokus dengan apa yang sedang saya hadapi saat itu, maka " sense of to do this " melambung tinggi. Dalam waktu yang singkat entah itu pulpen, spidol, pensil telah menari-nari dengan indah dalam genggaman saya. Dan sengsaralah yang menjadi pojok dari media karena harus merasakan goresan-goresan dari gerak gemulai tangan saya, dan berdoa saja supaya akhir polesannya lumayan.. :P
Sedikit menanggapi postingan "Aku ujian bagimu, kamu ujian bagiku..." kalau mau ditelaah lagi, banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan kisah Mba Adinda dan Mas Putra. Sedikit saya akan coba menggambarkan dari sudut pandang saya, bukannya lancang tapi ada bagian-bagian yang juga pernah saya alami. #Istighfar Keran Air Hati kita bagaikan keran air. Loh kenapa keran air? Biasanya Gembok dan Kuncinya. Hee, iya itu memang benar tentang gembok dan kunci, tapi tetap saja yang menggenggam hati kita hanyalah Allah semata, jadi perihal gembok dan kunci mintalah sama Allah. :) Atau sering terdengar... " iyaa hati kita digembok, kuncinya ada di ayah saya, so datangilah ayah saya. hihi. " Ahh udah ah, balik lagi ke keran air, ungkapan ini sebelumnya sempat saya baca dari salah satu postingan Bang Tere. Jangan membuka keran hati kita, jika belum siap untuk mengaturnya. Jangan sekali - kali membukanya jika memang belum ada ada wadah yang bisa menampungnya. Jik...







Comments
Post a Comment